Menurut Prabowo, keprihatinan terhadap Palestina tidak cukup berhenti pada simpati. Ia mendorong para kiai, ulama, pendidik, dan generasi muda untuk menjadikan kondisi tersebut sebagai pemicu memperkuat kapasitas bangsa melalui pendidikan dan kerja keras.
“Saya kira ini justru yang mendorong kita semua, apalagi saudara-saudara, apalagi para kiai, apalagi para ulama, apalagi para pendidik di institusi-institusi seperti Gontor ini. Ini saya kira harus mendorong dan memicu suatu kehendak,” tutur Presiden.
“Kehendak untuk belajar sungguh-sungguh. Kehendak untuk membangun bangsa Indonesia yang kuat karena bangsa yang tidak kuat, bangsa itu akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa lain,” lanjutnya.
Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam peringatan satu abad Gontor. Di tengah momentum 100 tahun perjalanan pendidikan pesantren tersebut, isu Palestina hadir melalui dukungan terbuka Presiden, simbol keffiyeh, dan seruan agar generasi muda mempersiapkan diri untuk membangun Indonesia yang kuat.
Bagi Prabowo, kepedulian terhadap persoalan dunia juga harus berjalan beriringan dengan upaya memperkuat bangsa sendiri. Sebab, kekuatan nasional dinilai menjadi modal penting agar Indonesia mampu berdiri tegak dan berkontribusi dalam menghadapi persoalan global.
