“Khusus pihak-pihak yang berada di lokasi kejadian, keterangannya harus didalami secara menyeluruh. Siapa berbuat apa, dalam kondisi bagaimana, hingga korban mengalami luka berat tersebut harus diungkap secara terang dan jelas. Tidak boleh ada bagian dari peristiwa ini yang dibiarkan kabur,” ujarnya.
YARA juga mengajak Mabes Polri, Ketua Komisi III DPR RI, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Aceh, Komnas HAM Perwakilan Aceh, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh serta berbagai pihak terkait untuk ikut mengawal proses hukum agar berjalan profesional, transparan, dan menjamin hak-hak korban.
“Ini bukan semata soal penegakan hukum, tetapi juga menyangkut perlindungan hak asasi manusia dan rasa keadilan bagi masyarakat,” katanya.
Istri Korban Tempuh Jalur Hukum
Sementara itu, Darmiati, istri BT (52), secara resmi melaporkan dugaan tindak pidana penganiayaan berat yang menimpa suaminya ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Aceh.Laporan tersebut tercatat dalam Laporan Polisi Nomor: LP/B/168/2026/SPKT/Polda Aceh tertanggal 15 Juni 2026. Dalam pelaporan itu, Darmiati didampingi kuasa hukumnya, Muhammad Nur, SH, dari kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).
Darmiati menegaskan dirinya tidak mempersoalkan proses hukum terkait dugaan tindak pidana yang dituduhkan kepada suaminya. Namun, ia berharap tindakan yang menyebabkan suaminya kehilangan tangan dan berpotensi mengalami cacat permanen juga diproses sesuai hukum yang berlaku.
Berdasarkan laporannya, Darmiati menerima informasi dari seorang saksi pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 04.00 WIB bahwa suaminya mengalami luka berat hingga pergelangan tangan kanannya putus.Saat tiba di lokasi kejadian, korban telah dievakuasi dan kemudian dirujuk ke RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Setibanya di rumah sakit, Darmiati mendapati suaminya dalam kondisi tidak sadarkan diri di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah menjalani tindakan medis darurat.Hingga kini, BT masih menjalani perawatan intensif pascaoperasi akibat luka berat yang dialaminya.
“Saya hanya menuntut keadilan. Suami saya kehilangan tangan dan akan menanggung cacat seumur hidup. Saya berharap hukum ditegakkan tanpa membedakan status sosial siapa pun,” ujar Darmiati saat memberikan keterangan kepada wartawan di Warung Kopi Bang Coy (Sekber Jurnalis), Jalan SA Mahmudsyah, Banda Aceh.Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan diharapkan dapat diusut secara profesional, transparan, serta memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak yang terlibat.

















