Pusat Informasi Media Tipikor Nasional

Silaturahmi ke PBNU, Luhut Sepakat Terus Mendorong NU Untuk Mencerdaskan Bangsa

Foto Istimewa

Mediatipikor.com, Jakarta – Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan bersilaturahmi ke Kantor Pusat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di Jalan Keramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (28/3/2023).

Pada kunjungan pertama kali Luhut ke PBNU pasca terpilihnya secara resmi KH. Yahya Cholil Staquf menjadi Ketua Umum PBNU, selain bersilaturahmi sekaligus juga melihat tahapan renovasi Gedung PBNU yang sedang berproses.

“Kesempatan ini tentu saya manfaatkan dengan baik untuk berdiskusi dan berdialog tentang kondisi bangsa saat ini, mengingat bulan ini adalah bulan baik bagi saudara muslim saya. Dimana mereka menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan lamanya,” kata Luhut dalam rilisnya.

Sebagai sebuah organisasi masyarakat yang begitu besar di negeri ini, Luhut melihat nama besar Nahdlatul Ulama tidak lantas membuat organisasi keagamaan tersebut menjadi begitu eksklusif.

“Bahkan seringkali, semangat keberagaman NU dapat diterima sekalipun oleh kalangan bukan NU, apalagi seperti saya yang notabene seorang non muslim,” tutur Luhut.

Lebih lanjut disampaikan Luhut, sejarah merekam bagaimana NU banyak berkontribusi dalam kepentingan bangsa dan negara.

“Sejumlah peran itu dapat terlihat dalam berbagai hal, mulai dari perjuangan identitas kebangsaan, masa-masa perjuangan kemerdekaan, hingga penguatan ideologi Pancasila dan Kebangsaan,” bebernya.

Dalam pertemuan Luhut dan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya (sapaan KH. Yahya Cholil Staquf), keduanya sepakat untuk terus mendorong peran NU dalam mengawal semangat para pendirinya untuk terus mencerdaskan bangsa Indonsia.

“Sesuai amanat para “founding fathers” kita. Guru dan mentor saya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berkata bahwa sebagai negara demokrasi, perbedaan pendapat adalah hal yang mutlak dan tak bisa dihilangkan.

Kalimat itu yang membuat saya sampai kepada satu kesimpulan yakni janganlah perbedaan membuat kita merasa lebih baik dari siapapun, sehingga kita lupa bahwa kepentingan martabat bangsa dan negara Indonesia harus diutamakan,” tutup Luhut.(Soekiman Leo)