Rektor Universitas Nasional, El Amry Bermawi Putera, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengukuhan Profesor Kehormatan kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon bukan sekadar seremoni akademik, melainkan bentuk penghormatan tertinggi atas konsistensi intelektual dan pengabdian panjang bagi bangsa dan negara.
“Pengukuhan ini kami maknai sebagai pengakuan akademik atas kerja panjang, ketekunan intelektual, serta konsistensi Dr. Fadli Zon dalam memperjuangkan kebudayaan, sejarah, dan jati diri bangsa. Ini adalah pesan moral bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan peradaban Indonesia,” ujar Rektor El Amry.
Ia menambahkan bahwa kiprah Fadli Zon dalam pelestarian sejarah, penguatan literasi budaya, serta diplomasi kebudayaan di tingkat nasional dan global menunjukkan keselarasan yang kuat dengan nilai-nilai Universitas Nasional yang diwariskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, salah satu pendiri UNAS. Menurut Fadli Zon, kontribusi tersebut telah melampaui batas sektoral dan administratif, serta menjangkau dimensi akademik, sosial, dan peradaban global.
Pada sidang terbuka ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan orasi kebudayaan bertajuk “Reinventing Indonesian Identity: Kebudayaan sebagai Fondasi Peradaban”.
Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya upaya penguatan kembali identitas Indonesia sebagai fondasi strategis peradaban bangsa di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
“Upaya reinventing Indonesian identity merupakan langkah strategis untuk meneguhkan kembali posisi Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia. Berbagai temuan dan jejak arkeologis membuktikan bahwa Nusantara telah memainkan peran vital dalam evolusi dan perjalanan panjang peradaban umat manusia,” tegas Fadli Zon.
Lebih lanjut, Fadli Zon menekankan bahwa Indonesia tidak dapat dipahami semata sebagai negara-bangsa modern, melainkan sebagai peradaban-bangsa (civilizational state) yang berdiri di atas fondasi megadiversity. Keberagaman etnis, bahasa, adat, dan tradisi yang terbentuk melalui proses sejarah panjang justru menjadi kekuatan strategis bangsa dalam memainkan peran penting dalam politik dan diplomasi kebudayaan global.
Ia juga menegaskan bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam pembangunan nasional.
“Budaya bukan hanya kompas moral, tetapi juga jalan tengah ruang solusi yang melampaui dikotomi kekuasaan dan kepentingan. The Power of Culture harus menjadi fondasi dalam pembangunan ekonomi, sosial, dan politik agar berjalan seimbang, berkelanjutan, dan berakar pada jati diri bangsa,” ujarnya.


















