Selain itu, warga turut mempertanyakan belum optimalnya pemanfaatan rumah dinas Bupati dan Wakil Bupati Aceh Besar yang berada di Kota Jantho. Mereka menilai keberadaan kepala daerah di ibu kota memiliki arti penting dalam memperkuat citra Jantho sebagai pusat pemerintahan.
“Rumah dinas sudah tersedia di Jantho, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal-hal seperti ini tentu menjadi perhatian masyarakat karena menyangkut simbol kehadiran pemerintah di ibu kota,” tambahnya.
Sementara itu, berdasarkan keterangan resmi Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, Pawai Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Lambaro digelar sebagai bagian dari syiar Islam dan upaya mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 28 kafilah pejalan kaki dan 15 mobil hias dengan total hadiah mencapai Rp68 juta. Pawai dilepas langsung oleh Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris bersama Wakil Bupati, unsur Forkopimda, pimpinan DPRK, Sekretaris Daerah, serta sejumlah pejabat daerah lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan bahwa peringatan Tahun Baru Islam diharapkan menjadi momentum memperkuat nilai-nilai keislaman serta mempererat persatuan masyarakat Aceh Besar.
Meski demikian, bagi sebagian warga Kota Jantho, persoalan utama bukan terletak pada pelaksanaan kegiatan keagamaan tersebut, melainkan pada arah kebijakan pemerintah daerah dalam memperkuat posisi ibu kota kabupaten.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dapat melakukan evaluasi terhadap penentuan lokasi kegiatan-kegiatan resmi daerah ke depan, sehingga Kota Jantho tidak hanya menjadi pusat administrasi pemerintahan, tetapi juga benar-benar hidup sebagai ibu kota yang aktif, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh Besar.

















