Pusat Informasi Media Tipikor Nasional

Dorongan Inovasi Sekolah di Aceh Besar Tuai Catatan Kritis

Usman Lamreung

MEDIATIPIKOR.COM | Pernyataan Bupati Aceh Besar yang mendorong kepala sekolah untuk terus berinovasi di dunia pendidikan sekilas tampak progresif. Ajakan tersebut memberi kesan adanya kepedulian terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Namun, jika ditelaah lebih jauh, pernyataan ini justru menyisakan sejumlah pertanyaan mendasar: inovasi seperti apa yang dimaksud, dan sejauh mana pemerintah daerah benar-benar menyiapkan ekosistem untuk mewujudkannya?

Pengamat politik dan sosial, Usman Lamreung, menilai bahwa istilah “inovasi” kerap digunakan sebagai jargon tanpa kejelasan arah kebijakan.

Menurutnya, pemerintah daerah sering kali mengedepankan retorika perubahan tanpa diikuti perangkat teknis yang memadai. “Inovasi tidak boleh berhenti pada seruan normatif. Harus ada indikator yang jelas, peta jalan yang terukur, dan dukungan sistem yang konkret,” ujarnya.

Dalam konteks Aceh Besar, dorongan kepada kepala sekolah untuk berinovasi dinilai belum dibarengi arah kebijakan yang jelas. Tidak ada parameter keberhasilan yang terukur, tidak ada roadmap pendidikan daerah, dan minim panduan konkret terkait bentuk inovasi yang diharapkan. Akibatnya, inovasi berpotensi menjadi sekadar beban administratif tambahan, bukan solusi nyata.

Lebih jauh, Usman juga menyoroti kecenderungan klasik dalam tata kelola pendidikan, yakni pelimpahan tanggung jawab ke level sekolah tanpa pembenahan di level kebijakan.

Kepala sekolah memang memiliki peran strategis, tetapi mereka bukan aktor tunggal dalam sistem pendidikan. Banyak persoalan mendasar justru berada di luar kendali mereka, seperti keterbatasan anggaran, distribusi guru yang tidak merata, hingga sarana dan prasarana yang belum memadai.

Realitas di lapangan memperkuat kritik tersebut. Di sejumlah wilayah pinggiran Aceh Besar, sekolah masih menghadapi berbagai keterbatasan: ruang belajar yang minim, akses teknologi yang rendah, serta beban administrasi yang tinggi. Dalam situasi seperti ini, mendorong inovasi tanpa dukungan nyata ibarat meminta sekolah bergerak cepat tanpa fondasi yang kuat.