“Setelah pulang dan minum obat, anak saya langsung muntah,” ujarnya.
Kondisi pasien kemudian memburuk pada sore hari. Sekitar pukul 17.30 WIB, keluarga kembali membawa pasien ke puskesmas dalam keadaan lemas. Namun, keluarga menilai penanganan tidak segera diberikan meski kondisi pasien sudah kritis.
Keluarga mengaku telah meminta tindakan medis seperti pemasangan oksigen dan infus. Namun, tenaga medis disebut menyampaikan bahwa tindakan tersebut harus menunggu persetujuan dokter.
Dalam situasi darurat tersebut, tenaga medis disebut lebih dahulu berkoordinasi melalui pesan WhatsApp dengan dokter, sementara kondisi pasien terus menurun.
Ketiadaan ambulans semakin memperburuk situasi. Pasien akhirnya dibawa menggunakan kendaraan pribadi menuju rumah sakit rujukan.
Setibanya di RSZA, pihak keluarga menyebut dokter menyatakan pasien diduga telah meninggal sebelum tiba.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan fasilitas layanan kesehatan tingkat pertama dalam menangani kondisi gawat darurat. Dalam standar pelayanan medis, penanganan pasien kritis seharusnya mengutamakan tindakan cepat dan penyelamatan nyawa tanpa penundaan.

















