Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyatakan negaranya tidak dapat menyetujui tindakan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menegaskan serangan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan berpotensi memperluas konflik di kawasan.
Di tengah kecaman politik itu, Paris juga mengambil langkah militer. Macron memerintahkan kapal induk Charles de Gaulle beserta armadanya bergerak menuju Laut Mediterania, menyusul laporan bahwa dua instalasi Prancis terdampak dalam serangan terbaru.
Tak hanya itu, Prancis dilaporkan telah mengerahkan jet tempur Dassault Rafale, sistem pertahanan rudal, serta radar ke sejumlah bandara di negara-negara sekutu sebagai langkah antisipasi.
Macron mengonfirmasi bahwa fregat Languedoc serta aset pertahanan udara tambahan dijadwalkan tiba di lepas pantai Siprus, dikutip dari AFP, Selasa (3/3/2026).
Langkah ini memperlihatkan dua pesan yang berjalan beriringan, kecaman diplomatik terhadap eskalasi serangan, sekaligus kesiapan militer untuk melindungi kepentingan dan aset Prancis di tengah situasi yang kian memanas.
Diketahui sebelumnya, Israel dan Amerika Serikat menyerang sejumlah kota di Iran, termasuk Teheran dalam operasi militer gabungan yang disebut sebagai “Operasi Tempur Besar” pada Sabtu 28 Februari 2026.
Serangan tersebut terjadi di tengah negosiasi terkait program nuklir dan rudal balistik Iran setelah berminggu-minggu ancaman yang meningkat dari Washington. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel utara dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Terkait aksi militer tersebut, Macron memberikan pandangan kritis kepada semua pihak yang terlibat, termasuk AS.
“AS dan Israel memutuskan untuk meluncurkan operasi militer yang dilakukan di luar hukum internasional, yang tidak dapat kami setujui,” tegas Macron.

















